Bertutur - Sejak dilantik pada 8 September 2025, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa langsung membuat serangkaian gebrakan yang menandai arah baru pengelolaan keuangan negara. Ekonom lulusan Purdue University ini sebelumnya menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Kini, ia tampil di garis depan kabinet Prabowo untuk menakhodai kebijakan fiskal Indonesia. Gebrakan-gebrakan awalnya menunjukkan sikap cepat, tegas, dan pragmatis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperbaiki efektivitas anggaran negara. Berikut lima langkah penting yang sudah ia ambil.
1. Penyuntikan Dana Rp200 T ke Bank Himbara
Gebrakan paling awal adalah penarikan dana Rp200 triliun dari Bank Indonesia yang selama ini mengendap, untuk kemudian ditempatkan ke bank-bank milik negara (Himbara). Tujuannya jelas: menambah likuiditas agar kredit produktif bisa segera mengalir ke sektor riil. Dengan cara ini, pemerintah berharap dunia usaha mendapat akses pembiayaan yang lebih luas sehingga aktivitas ekonomi bergerak lebih cepat. Namun, tantangan terbesarnya adalah memastikan bank tidak hanya menahan dana tersebut, melainkan menyalurkannya secara tepat sasaran dan tidak memicu inflasi berlebihan.
2. Membentuk Tim Percepatan Penyerapan Anggaran
Purbaya juga menegaskan perlunya tim khusus yang mengawasi penyerapan anggaran lintas kementerian dan lembaga. Bahkan, ia tidak segan mengirim petugas ke lapangan untuk memastikan program berjalan. Langkah ini penting karena lambatnya realisasi anggaran kerap menjadi hambatan utama. Dengan pengawasan ketat, belanja negara diharapkan lebih efektif dan manfaatnya cepat dirasakan masyarakat, baik dalam bentuk bantuan sosial maupun pembangunan infrastruktur.
3. Rombak RAPBN 2026
Gebrakan berikutnya adalah rencana merombak Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026. Salah satu fokusnya adalah memperbesar porsi Transfer ke Daerah (TKD) yang sebelumnya dipangkas. Purbaya ingin memastikan daerah tetap memiliki ruang fiskal memadai untuk menjalankan pembangunan dan pelayanan publik. Meski begitu, ia harus berhati-hati agar kebijakan ini tidak menambah beban defisit dan tetap menjaga keseimbangan fiskal nasional.
4. Target pertumbuhan ekonomi 6 persen
Dalam berbagai pernyataannya, Purbaya menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia seharusnya bisa mencapai 6–6,5 persen jika permintaan domestik dikelola dengan baik. Target ini ambisius, tetapi sekaligus memberi arah jelas bahwa pemerintah akan berfokus pada stimulasi permintaan dalam negeri, baik melalui konsumsi maupun investasi. Namun, tantangan global seperti ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga komoditas tetap perlu diantisipasi agar target ini tidak hanya menjadi janji.
5. Transparansi Program Publik
Gebrakan lain yang menarik perhatian adalah komitmen Purbaya untuk membuka data program prioritas pemerintah secara rutin. Misalnya, program Makan Bergizi Gratis akan dievaluasi setiap bulan melalui konferensi pers bersama lembaga terkait. Dengan cara ini, publik bisa mengawasi langsung dan memastikan program benar-benar berjalan. Transparansi ini diharapkan memperkuat akuntabilitas sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat.
Lima gebrakan awal Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa memperlihatkan gaya kepemimpinan yang cepat dan lugas. Fokusnya ada pada likuiditas perbankan, percepatan belanja negara, penguatan peran daerah, ambisi pertumbuhan ekonomi, serta transparansi kebijakan publik. Meski masih awal, langkah-langkah ini memberi sinyal bahwa pengelolaan fiskal ke depan akan lebih terbuka dan berorientasi pada hasil nyata. Tantangannya tentu tidak ringan, mulai dari menjaga stabilitas inflasi hingga mengelola defisit anggaran. Namun, jika mampu dijalankan dengan konsisten, gebrakan ini bisa menjadi fondasi baru bagi ekonomi Indonesia.
Foto: Istimewa
