Bertutur - Pagi itu, cahaya matahari merambat pelan di antara bangunan tua Pasar Lama. Aroma kecap yang tercium samar dari pabrik rumahan berpadu dengan bau dupa dari klenteng di sudut jalan. Di gang-gang sempit, langkah kaki para pejalan menyisakan gema, seolah waktu menolak bergerak cepat. Saya ikut dalam sebuah tur kecil yang disebut Benteng Walking Tour, menyusuri ruang-ruang ingatan yang pernah hidup berabad-abad lalu.
China Benteng. Sebuah nama yang akrab terdengar, tapi jarang sungguh-sungguh diselami. Istilah itu merujuk pada komunitas Tionghoa peranakan yang sejak ratusan tahun lalu menetap di tepi Sungai Cisadane. Mereka datang sebagai pendatang, menetap sebagai warga, lalu berakar sebagai bagian dari Tangerang. Kisah mereka terjalin di antara sejarah kolonial, akulturasi budaya, hingga denyut modernisasi yang tak pernah tidur.
Teluk Naga: Awal Sebuah Cerita
Sejarah itu berawal dari tahun 1407. Kapal rombongan Cheng Ho berlabuh di Teluk Naga. Sebagian tak kembali, karam di pantai, lalu menetap di tanah asing. Laki-laki Tionghoa menikah dengan perempuan Sunda. Dari perkawinan campur itu lahirlah identitas baru, separuh dari tanah leluhur, separuh dari tanah yang mereka pijak.
Dua abad berselang, Belanda membangun benteng di tepian Cisadane. Benteng itu akhirnya memberi nama: China Benteng. Sebuah sebutan yang kelak melekat pada orang-orang Tionghoa Tangerang. Nama yang lahir dari kolonial, tapi dirawat menjadi identitas.
Kecap Asli Tangerang
Di sebuah toko kecil, pemandu tur menunjuk botol kecap tua. “Ini kecap Istana, sejak 1882,” kata Elsa, pemandu tour. Masih ada, masih diproduksi di balik deretan rumah pecinan. Di Tangerang, kecap bukan sekadar bumbu, melainkan sejarah yang mengendap dalam rasa.
Ada pula kecap SH, yang sejak 1920-an mewarnai dapur warga. Dan tentu saja, kecap Bango yang awalnya bernama Kecap Benteng Bango. Sejak 1928, ia menetes di atas piring-piring, sebelum akhirnya diakuisisi Unilever pada 1992. Filosofi burung bangau yang terbang jauh dan lama menjadi lambang kesuksesan yang abadi.
Dalam kecap, kita membaca kisah tentang industri rumahan, tentang kerja keras keluarga, tentang bagaimana sesuatu yang lahir dari gang kecil bisa menembus meja makan seantero negeri.
Masjid Jami Kalipasir
Langkah kaki kami tiba di Masjid Jami Kalipasir. Bangunan tua ini berdiri sejak 1576, di tepi sungai, berhadapan dengan deretan rumah pecinan. Menaranya menjulang menyerupai pagoda, kubahnya tak bulat seperti kebanyakan masjid, melainkan sederhana, datar.
Di dalamnya, ada makam istri Sultan Ageng Tirtayasa. Di luar, sejarah berbisik bahwa pembangunan masjid ini tak lepas dari tangan-tangan Tionghoa Benteng yang kala itu banyak mualaf. Batu bata, kayu, dan doa, semuanya merangkul dua budaya dalam satu harmoni.
Toa Pekong Air: Sungai yang Menyimpan Doa
Tak jauh dari masjid, ada Toa Pekong Air. Dermaga tua di tepi Cisadane, tempat orang bersembahyang sebelum menyeberang dengan getek. Sungai ini adalah nadi kota: jalur transportasi, ruang ritual, sekaligus arena festival.
Setiap bulan Juni, Cisadane dipenuhi riuh sorak penonton perahu naga. Air bergelombang, dayung menghantam, warna-warni perahu meluncur cepat. Tradisi itu bukan sekadar lomba, tapi cara komunitas mengikat masa lalu dengan masa kini. Sungai tetap mengalir, dan doa-doa masih melayang di atas permukaannya.
Bahasa, Musik, dan Kehidupan
Bahasa Hokkian yang dulu dibawa para leluhur kini masih tersisa. Kata “cepek”, “gopek”, “bakpia”, “bakmi”, semuanya sudah masuk dalam kosakata kita sehari-hari. Jejak bahasa yang mungkin dianggap remeh, tapi sesungguhnya mengikat dua dunia.
Di sela perjalanan, pemandu tur bercerita tentang Gambang Kromong, musik yang lahir dari kawin silang budaya Tionghoa dan Betawi. Nada-nada ceria, syair-syair jenaka, mengisi pesta pernikahan, ulang tahun, atau perayaan Imlek. Musik itu adalah bahasa lain dari kebersamaan.
Museum Benteng Heritage
Tur ditutup di Museum Benteng Heritage. Bangunan bercat merah, dipugar dengan penuh cinta. Di dalamnya, koleksi artefak, foto-foto lama, pakaian tradisional, hingga dokumen bersejarah tertata rapi.
Museum ini bukan sekadar ruang pajang. Ia adalah arsip ingatan. Tempat generasi baru belajar bahwa identitas tidak lahir begitu saja, melainkan ditempa oleh sejarah panjang. Bahwa yang hari ini kita sebut “Tangerang” adalah hasil dari perjumpaan, percampuran, dan penerimaan.
Antara Modernisasi dan Pelestarian
Namun, perjalanan ini juga menunjukkan rapuhnya jejak itu. Banyak rumah tua terhimpit bangunan baru. Generasi muda memilih pergi, mengejar karier di Jakarta atau kota lain. Tradisi makin jarang dijalankan, hanya sesekali muncul saat festival atau acara khusus.
China Benteng berada di persimpangan: di satu sisi warisan sejarah, di sisi lain desakan modernisasi. Tanpa upaya merawat, identitas ini bisa hilang, menyisakan hanya catatan buku atau koleksi museum.
Agar Jejak Tak Terlupakan
Beruntung, masih ada inisiatif lokal. Walking tour digelar rutin. Festival Cap Go Meh di Pasar Lama tiap tahun menyedot ribuan orang. Pertunjukan Gambang Kromong, kelas kuliner, hingga pameran seni terus dihidupkan. Semua ini bukan sekadar acara, tapi ikhtiar menjaga identitas.
Di tengah kota yang berubah cepat, China Benteng mengajarkan bahwa melestarikan masa lalu bukan berarti menolak masa kini. Melainkan merajut keduanya agar tetap berjalan seiring.
Menjelajahi Pasar Lama bersama walking tour membuat saya sadar: China Benteng bukan hanya bagian dari sejarah Tangerang, melainkan denyut yang masih hidup. Dalam aroma kecap, denting musik, doa di dermaga, hingga warna merah museum, tersimpan pesan: identitas itu rapuh, tapi bisa lestari bila dijaga. Dan tugas kita adalah memastikan jejak itu tetap bisa ditelusuri, bukan hanya oleh generasi sekarang, tapi juga mereka yang akan datang.
Foto: Azkal Azkia Nurrohmat
