Fenomena ini menandai lahirnya era baru, yaitu social media journalism. Kini, masyarakat dapat mengonsumsi berita hanya dalam hitungan detik sekaligus menjadi bagian dari penyebarannya. Dari peristiwa bencana alam hingga isu sosial, banyak laporan awal justru muncul dari gawai dan akun media sosial warga. Sebuah ekosistem baru dalam media sosial.
Hal ini menunjukkan partisipasi publik dalam penyebaran informasi. Istilah seperti citizen journalism kerap kali muncul sebagai pintu utama arus berita. Namun, dalam praktiknya, muncul pertanyaan besar, sudah tepatkah informasi yang disebarkan?
Hal tersebut kemudian disorot Komdigi melalui siaran persnya tentang pengembangan jurnalisme warga. Dilansir dari laman resmi Komdigi, Nezar Patria sebagai Wamenkominfo mengungkapkan jurnalisme warga berkontribusi besar di tengah disrupsi digital. Ia mengungkapkan tiga nilai untuk ekosistem media sosial sebagai jurnalisme warga yang baik.
"Pertama, independensi, kedua jurnalisme berkualitas dan ketiga, jurnalisme yang bisa mempromosikan nilai-nilai yang pluralisme. Ketiga nilai ini semestinya membangun suatu ekosistem media sosial yang baik dan kuat untuk keberlanjutan jurnalisme secara keseluruhan dan bisa menopang pertumbuhan demokrasi,” ujar Nezar dalam "Festival Jurnalis Warga" di Hotel Mercure, Jakarta pada Selasa (20/08/2024).
Senada dengan citizen journalism, Ninik Rahayu sebagai Ketua Dewan Pers mengungkapkan peran penting jurnalisme warga. Ia mengatakan siapapun bisa menjadi jurnalis amatir melalui gawainya.
"Perlu memastikan informasi yang disebarkan oleh jurnalis warga akurat, bertanggung jawab, dan tidak merugikan pihak lain. Seorang jurnalis tidak bisa hanya mencari, mengolah, dan menyebarkan. Dia punya tanggung jawab untuk mengukur dampak dari pemberitaan," ujar Ninik dilansir dari laman Dewan Pers.
Ninik Rahayu: Pemberitaan Jurnalis Harus Berdampak
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kehadiran jurnalisme warga bukanlah ancaman bagi media profesional, melainkan pelengkap dalam ekosistem informasi digital. Namun, dalam praktiknya, penyebaran berita di media sosial kerap menghadirkan tantangan serius. Informasi yang beredar sering kali belum melalui proses verifikasi dan menimbulkan misinformasi.
Baca Juga: Cara Bijak Menggunakan teknologi
Di sinilah letak persoalan paling besar dalam praktik jurnalisme di ranah digital, kecepatan kerap mengalahkan ketepatan. Melalui tantangan tersebut tentunya ekosistem media sosial harus mengedepankan prinsip cek fakta sebagai verifikasi unggahan yang beredar.
Nezar Patria dalam kesempatan yang sama juga menekankan pentingnya disiplin verifikasi bagi siapa pun yang berperan sebagai penyampai informasi di ruang digital. “Cek fakta, konfirmasi, dan tanggung jawab sosial adalah fondasi utama. Kalau ini diabaikan, yang lahir bukan jurnalisme warga, tapi banjir misinformasi,” ungkapnya.
Kecenderungan masyarakat untuk membagikan informasi tanpa memverifikasi terlebih dahulu memang menjadi fenomena global. Menurut laporan Reuters Institute Digital News Report 2024, sekitar 41 persen pengguna media sosial di Asia Tenggara mengaku sering menemukan berita palsu atau menyesatkan di platform digital. Indonesia sendiri termasuk negara dengan tingkat sharing berita tinggi, tetapi tingkat literasi medianya masih tergolong rendah.
Dewan Pers pun melihat fenomena serupa. Dalam artikelnya berjudul Pertanyaan Penting di Balik Etika Media Digital, menyoroti bahwa banjir konten dari media sosial menuntut standar baru dalam menjaga keakuratan berita. Dewan Pers menilai bahwa etika jurnalistik harus tetap berlaku, termasuk bagi jurnalis warga yang memproduksi dan menyebarkan informasi publik.
Dalam konteks ini, Komdigi dan Dewan Pers memiliki peran saling melengkapi. Komdigi berfokus pada peningkatan literasi digital dan kapasitas publik, sementara Dewan Pers memperkuat aspek etik dan profesionalitas media. Sinergi keduanya penting agar masyarakat tidak hanya aktif menyebarkan informasi, tetapi juga memahami konsekuensinya.
Maka, social media journalism idealnya tidak sekadar mengejar trending topics atau engagement, tetapi juga menjunjung nilai kebenaran dan empati publik. Di era serba cepat ini, proses verifikasi harus tetap menjadi jantung dari praktik jurnalistik, baik bagi media profesional maupun warga biasa.
Pada akhirnya, social media journalism tidak hanya tentang siapa yang paling cepat menyebarkan berita, tetapi siapa yang paling bisa dipercaya. Sebab di tengah derasnya arus informasi, kecepatan memang penting, tapi kebenaran tetap menjadi inti.
Foto: Unsplash/Camilo Jimenez
