Menakar Masa Depan Industri MICE Indonesia


Bertutur - Di balik acara pameran, seminar internasional, atau ramainya turis di Bali, ada satu industri yang bekerja dalam senyap tetapi menyumbang dampak ekonomi besar, yaitu MICE. Meeting, Incentive, Convention, Exhibition bukan sekadar acara bisnis, melainkan katalisator yang menghubungkan ide, transaksi, dan kolaborasi lintas negara. Tanpa banyak diketahui publik, industri ini tengah tumbuh menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi baru Indonesia.

Pertanyaannya, seberapa besar potensi MICE di tanah air, dan apa saja tantangan yang harus dilalui agar Indonesia mampu menjadi pusat MICE unggulan di kawasan? Untuk menjawabnya, mari menelusuri esensi, iklim, hingga prospek masa depan industri yang semakin strategis ini.


Esensi MICE

MICE merupakan subsektor pariwisata berbasis bisnis yang mencakup empat elemen utama: rapat (meeting), perjalanan insentif (incentive), konferensi (convention), dan pameran (exhibition). Tidak sama dengan pariwisata umum yang fokus pada rekreasi, MICE lebih menekankan interaksi profesional, jaringan bisnis, serta pertukaran pengetahuan.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyebut MICE sebagai bagian dari pariwisata berkualitas, sebab kontribusinya tidak berhenti pada penyelenggara acara saja. Dampaknya berlapis: hotel terisi penuh, transportasi ramai digunakan, katering lokal kebanjiran pesanan, hingga UMKM kecil di sekitar venue ikut kecipratan rezeki. “MICE itu memberi efek ganda yang besar ke ekonomi lokal,” ungkap Deputi Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan Kemenparekraf, Vinsensius Jemadu, dalam sebuah kesempatan.


Iklim dan Potensi di Indonesia

Secara geografis, Indonesia memiliki daya tarik yang sulit disaingi. Jakarta dengan pusat bisnisnya, Bali dengan keindahan alam dan infrastruktur internasional, serta Surabaya dengan kekuatan jaringan perdagangan regional, menjadi magnet utama bagi penyelenggara acara global. Fasilitas seperti Bali Nusa Dua Convention Center hingga Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD kerap masuk radar event organizer mancanegara.

Potensi ini juga tercermin dari angka. Menurut laporan Astute Analytica (2024), pasar MICE Indonesia bernilai sekitar USD 2,3 miliar pada 2023 dan diproyeksikan melonjak menjadi USD 7,4 miliar pada 2032. Tren positif ini selaras dengan catatan Antara, yang menyebut industri MICE tumbuh 12–15 persen pada kuartal III 2023, dan berpotensi naik hingga 20 persen di akhir tahun. Pertumbuhan itu menjadi sinyal bahwa MICE tak lagi sekadar pelengkap pariwisata, melainkan mesin ekonomi dengan prospek jangka panjang.

Pemerintah pun tidak tinggal diam. Pada awal 2025, Kemenparekraf mengumumkan keikutsertaan Indonesia dalam pameran B-to-B MICE terbesar di Australia. “Partisipasi Indonesia dalam pameran ini menjadi salah satu upaya kami bersama industri untuk terus memperkuat potensi Indonesia,” ujar pihak Kemenparekraf dalam siaran pers resminya. Ajang tersebut bahkan berhasil mencatat potensi transaksi hingga Rp155 miliar.

Pelaku industri juga mengamini geliat ini. Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Haryadi Sukamdani, menegaskan, “MICE itu nomor satu tetap di Jakarta. Jakarta lebih ke tujuan MICE lingkup regional.” Pernyataan ini menegaskan posisi ibu kota sebagai pintu utama event regional, meski kota-kota lain juga mulai naik daun.


Tantangan dan Masa Depan

Meski peluangnya besar, MICE Indonesia tak lepas dari tantangan. Persaingan regional dengan Singapura, Thailand, dan Malaysia menjadi salah satu yang paling nyata. Negara-negara tersebut sudah lebih dahulu membangun ekosistem MICE yang matang dengan fasilitas kelas dunia dan promosi agresif.

Selain itu, keterbatasan SDM profesional masih menjadi pekerjaan rumah. Penyelenggaraan event berskala internasional menuntut kemampuan manajemen, teknologi acara, hingga pelayanan berstandar global. Digitalisasi juga tak bisa dihindari, terutama dengan tren hybrid event yang memadukan tatap muka dan virtual.

Isu keberlanjutan juga semakin mengemuka. Deputi Kemenparekraf Vinsensius Jemadu menegaskan pentingnya praktik green event dalam industri ini. “Isu keberlanjutan menjadi perhatian artis-artis kelas dunia ini bisa juga tidak perlu dibayar selama mereka tahu kita benar-benar menerapkan prinsip keberlanjutan,” ujarnya, dikutip Antara.

Sebagai respon, pemerintah menyiapkan beberapa strategi: memperkuat kompetensi SDM lewat pelatihan, mempercepat digitalisasi dengan platform MICE Indonesia, serta mendorong penerapan konsep ramah lingkungan. Jika langkah ini dijalankan konsisten, bukan mustahil Indonesia bukan hanya jadi tuan rumah, tapi juga pusat MICE unggulan di Asia Tenggara.

Industri MICE mungkin belum sepopuler pariwisata hiburan di mata masyarakat umum, namun potensinya tak bisa diremehkan. Di balik rapat-rapat formal dan pameran dagang, terdapat aliran transaksi miliaran rupiah yang bisa menggerakkan banyak sektor. Dengan strategi yang tepat, MICE bisa menjadi “industri senyap” yang kelak menjelma mesin ekonomi baru Indonesia.


Foto: Azkal Azkia Nurrohmat

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama